AWAL PERADABAN DESA BANJARAN
Belum di ketahui secara pasti
tahun berapa, dan siapa yang pertamakali menduduki wilayah Desa Banjaran, dan
apa Makna atau arti yang sebenarnya tentang nama BANJARAN. Sebab di Indonesia
nama wilayah , Kota ,atau Desa yang berawalan
kata Banjaran itu cukup banyak tersebar di berbagai wilayah yang ada di
Indonesia,
Secara
arti Bahasa kata atau Kalimat (BANJAR , BANJARAN ,BANJARANYAR,
BANJARSARI, BANJARATMA, BANJARPATOMAN,dll) mungkin ada Kesamaan atau kemiripan.
Yang pernah terjadi di Desa Banjaran kecamatan Salem Kabupaten Brebes ada
beberapa fase :
Fase Pertama merupakan masa pada
jaman Kerajaan.
Fase Ke Dua Yaitu Fase Masuknya
Ajaran Islam
Fase Ke Tiga Masuknya Penjajahan
Fase Ke Empat Fase Dimulainya Perang
Kemerdekaan
Fase ke Lima Fase setelah
Indonesia Merdeka.
Fase Pertama merupakan
masa pada jaman Kerajaan.
Menurut cerita Pada Jaman
dahulukala beberapa orang Pengembara datang ke satu wilayah yaitu ( sekarang Dusun Babakan ) diantara para
Pengembara tersebut langsung membabad Alas yang masih Hutan Belantara untuk d
jadikan tempat pemukiman .Rombongan itu tiada lain adalah
Rombongan NYI SRI DEWI ENDANG SARI, dan beberpapa Pengawalnya atau Gandeknya.
Pengembaraan NYI SRI DEWI ENDANG
SARI itu tiada lain di sebabkan sedang terjadinya Perang Kerajaan Banten waktu
itu, sehingga beliau mengasingkan diri
untuk menyelamatkan diri karena ketidaksukaanya pada Peperangan ,seterusnya Melakukan
Semedi atau Pertapaan di sekitar wilayah Gunung Parukuyan Kidul, (gunung
Parukuyan itu ada Dua yaitu Gn Parukuyan Kidul dan Gn Parukuyan Kaler, arti
Parukuyan itu adalah Tempat membakar kemenyan yang ukurannya Cukup Besar
keberadaanya sampai sekarang belum di ketemukan ).
Dan itu artinya Jauh sebelum
Indonesia Merdeka Tahun 1945, penduduk Desa Banjaran sudah ada, hal ini di
buktikan dengan adanya Peninggalan Cagar
Budaya diantaranya Situs atau Makam SYEH
AHMAD, BUJANG KASEP, SINGA BAYA , dan SINGA GATI yang berada di Astana Tegal
Jati Sinar Jatilawang, NYI SRI DEWI
ENDANG SARI, di Astana Babakan, dan yang di Astana Wetan Ki SURAWEDANA.
Sebelum Desa Banjaran yang sekarang awalmulanya adalah terdiri dari beberapa
Kampung Pedukuhan atau Dusun, diantaranya : ALUN – ALUN, BANJARSARI, BULAK
CILUTUNG, DEPOK, PANEMBONG, MULYASARI (Cilanggong) BINUWANG, WALAHAR, KIRENDEY,
BABAKAN, PAMAHAN, WANGKELANG. Kesemuanya itu dulunya merupakan kampung - kampung
atau Dusun- Dusun yang jadi tempat-tempat Pemukiman Orang orang terdahulu di
Desa Banjaran, pada masa dulu warga yang menduduki Kampung kampung tersebut
merupakan oranag-orang hebat, Seiring berjalannya waktu selang beberapa
dekade, datang juga para Pengembara dari Wilayah Cirebon dan Tegal , Syeh
Akhmad dan berdomisili di Kampung Alun – Alun , dan Depok yang konon menurut cerita setelah beberapa
puluh tahun tinggal dan menetap akhirnya di Depoklah Tempat Orang orang
tersebut berlatih Ilmu - ilmu beladiri Karena sudah jadi Padepokan maka
terkenalah yang namaya DEPOK.
Dan beberapa tahun kemudian
selanjutnya datang lagi Pengembara dari Wilayah Tegal yaitu SINGABAYA dan
SINGAGATI, yang menempati Wilayah Dusun
Banjarsari dan Bulak Cilutung .
Waktu terus berjalan yang pada
masa itu di Huni juga wilayah Panembong,dan Dusun – Dusun yang lain.
Kemudian jika mau ke ALUN – ALUN Bilangnya mereka mengatakan mau
ke DAYEUH, karena Kampung kampung tersebut cukup jauh dan terpencil orangnyapun masih sedikit, dan yang telah di
tinggalkan secara Total adalah Kampung Wangkelang dan Kampung Pamahan, Kampung
Wangkelang itu sendiri berada di sebelah atas CIERENG, yang sekarang sudah jadi
Pesawahan, sedangkan Kampung Pamahan berada di atas Pesawahan Sawah CIBEBER,
atau yang terkenal TEGAL DATAR, atau berada di sebelah Utara NAPRAJA HILIR.
Konon menurut Cerita pada jaman
dahulu kala, yang menduduki wilayah Alun – Alun itu merupakan dari Kalangan
Peryayi yang merupakan Kumpulan dari orang – orang hebat dari semua wilayah
atau Dusun - Dusun yang ada di Desa Banjaran, dan mempunyai pekuburan di blok
Ehek (yang sekarang di Pakai Sekolahan Madrasah Ibtidaiyah /MI dan TK al
Islam), sedangkan penduduk yang dulu menempati wilayah Banjarsari itu bertempat
di Astana Tegaljati yang konon menurut cerita, asal Tegal Jati itu sendiri, adalah adanya Kuburan
Orang yang Asli berasal dari wilayah Tegal,(SINGABAYA dan SINGAGATI), bersama
keempat orang pengikutnya tersebut itu merupakan anggota rombongan Sureng Pati,
yang mengungsi terus bermukim Di Banjaran hingga Wapat.sehingga di namailah
Astana Tegal Jati (Orang Tegal Sejati ).
Gamabar : Pemakaman Empat Orang yang Berasal Dari Tegal
ada juga yang menceritakan yang
Pertama di Kubur di sana adalah Syeh Ahmad sebagai Pembuka Kuburan baru maka di
sebutlah Sinar Jatilawang, karena merupakan Pembuka Lawang Kemenangan Syeh
Ahmad dalam Mensiarkan Ajaran Islam Di Desa Banjaran,karena pada Mulanya
penduduk Setempat itu menganut ajaran Hindu dan Kejawen.
Gamgar : SINGABAYA DAN SINGAGATI Sinar Jatilawang Banjaran.
Kemudian yang menduduki wilayah,
Panembong itu punya wilayah kuburan di Astana Wetan adanya cagar Budaya atau
pemakaman Ki Surawedana.
Sedangkan yang menduduki Wilayah
Kampung Babakan itu adalah penduduk yang Awalnya berasal dari Wilayah Banten,
(salah satu turunan Darah Biru dari Kerajaan Salakanegara).
Menurut keterangan Dongeng sesepuh, pada masa
Perang kerajaan Galuh Sunda ,dan Cirebon ada beberapa yang melarikan diri ke
kampung tersebut,karena wilayah tersebut berada di paling ujung Desa Banjaran.
Maka dari tempat Pemkamannyapun
yaitu Astana Babakan yang menurut cerita
merupakan Kampung Awal mulanya penduduk Desa Banjaran yang suka di sebut
(Babak- babak Desa Banjaran), yang sampai sekarang ada Kuburan / Situs NYI SRI
DEWI ENDANGSARI, KI GANDEK, KI PANANDAAN, dan YULIYANA .( sc dari Juru Kunci
Astana Babakan)
Penduduk yang masih sedikit yang
ada di Kampung itulah yang awalnya ada, dan menurut riwayat lain , bahwa pada
awalnya penduduk tersebut berasal dari beberapa wilayah, itu terjadi karena
pada masa terjadinya Perang Kerajaan berkecamuk
baik itu Kerajaan Mataram, Sunda Galuh,Tarumanegara, Padjajaran, Kesultanan Cirebon, Kesultanan
Brebes, ada beberapa yang mengasingkan atau melarikan diri untuk menyelamatkan
diri ke Wilayah Salem dan tersebar di masing masing Desa ,di kampung kampung
tersebutlah yang jadi tempat Pengungsian atau Pelarian, itu di karenakan di
wilayah Salem , jauh dari jangkauan .
Setelah peperangan kerajaan
mulai reda barulah mereka kembali lagi ke wilayah asal tetapi ada juga diantara
mereka yang langsung menetap. Adanya Pertapa Pertapa Sakti
,Orang orang Kuat dan Hebat, di Desa Banjaran pada masa itu , baik dalam Ilmu
Kanuragan , Kekebalan dan masih banyak lagi Ilmu Ilmu lainnya, itu di sebabkan
untuk bisa menjaga diri dari segala kemungkinan.
Karena Banjaran merupakan
wilayah yang banyak bukit - bukit kecil untuk bisa di huni, dan tersekat secara
alami Oleh sungai sungai Sungai
Kecil,yang mengalir Air melintasi setiap pedukuhan yang Cukup Elok dan
merupakan Anugrah dari sang Maha Pencipta
juga di Lintasi Sungai yang cukup Besar Yaitu Sungai Cigunung.
Desa Banjaran itu merupakan salah satu Desa yang ada di
Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah, dan menurut cerita
adalah desa yang ke Empat di Kecamatan Salem.
Gambar : Ilustrasi
Ada beberapa pendapat mengenai asal - usul nama Banjaran, yang
di antaranya kata Banjaran berasal dari
kata "Ban" dan
“Jaran”Ban berarti Roda Kehidupan yang
selalu berputar dan "Jaran",adalah Simbol Kekuatan dan Kesemangatan juga
lambang Kuda Samberani,(sang Pemberani ), ada Juga yang mengartikan Banjaran
itu Asal dari Kebanjiran, karena Banyak Pengungsi yang Datang Waktu Peperangan
berkecamuk di Daerah kerajaan , ada Juga yang berpendapat Bahwa Banjaran itu
Merupakan Asal Dari Ganjaran / Imbalan yang sangat baik, sebab Waktu Pengungsi
Datang silih berganti di Sambut dan di terima Oleh penduduk yang lebih awal
datang ke Banjaran, Semuanya hampir cocok dengan keadaan sekarang sebab daerah
Banjaran secara geograpis yang merupakan daerah Landai , banyak potensi yang
bisa di kembangkan baikdalam bidang pertanian maupun perkebunan, disisi lain
penduduknya mempunyai Jiwa Semangat yang Pantang menyerah, Pemberani ,juga
sangat menjunjung nilai nilai Gotong royong,dan Persatuannya yang
Kompak.
Semenjak berakhirnya konflik antar suku
Kampung atau Dusun yang ada di Desa
Banjaran dan Mulainya Perjuangan untuk Kemerdekaan Indonesia maka para Pemuka
yang ada pada waktu itu mengadakan perundingan untuk memberikan Nama Desa atau
julukan sebagai symbol bersatunya Warga yang notabene tersebar di beberapa Kampung
atau Dusun, dan Banjaran itu sendiri merupakan tempat yang sangat Aman maka di Namailah sebuah Desa yaitu : “ DESA BANJARAN”,
Dengan
harapan nama itu bisa membawa warganya ke arah yang lebih bersatu dan
sejahtera, Agamis dan Nasionalis, juga bisa menjaga Persatuan atau gotong-
royong, yang akhirnya kegotongroyongan itu sampai sekarang masih melekat pada
warga Desa Banjaran.
Begitupun
dengan nama nama Sungai sungai Kecil yang ada di dalam Desa.
Karena
Salah satu Sungai yang termasuk Paling Hulu ada di Kampung Babakan maka sungai
itulah yang di namai sungai CIBANJARAN.
Adapun Orang orang yang Pernah
berkuasa atau memimpin di Desa Banjaran sebelum masa Kemerdekaan berdasrkan
pada catatan yang ada di Desa adalah :
Fase Pertama merupakan masa pada jaman Kerajaan.
Fase Ke Dua Yaitu Fase Masuknya Ajaran Islam
Fase Ke Tiga Masuknya Penjajahan
Fase Ke Empat Fase Dimulainya Perang Kemerdekaan
Fase ke Lima Fase setelah Indonesia Merdeka.
NO
|
NAMA
|
PERIODE
|
KETERANGAN
|
1
|
EMBAH DALEM CITRA GUNA
|
||
2
|
PUTRANA ARSA SUTA
|
||
3
|
WARGA NAYA
|
||
4
|
WARGA SUTA
|
||
5
|
WARGA DIFA
|
||
6
|
TIRTA DIFA
|
||
7
|
SURADIKA
|
||
8
|
SURAWEDANA
|
||
9
|
ASTRA JAYA
|
||
10
|
SINGA KRAMA
|
||
11
|
NAYA DIWANGSA
|
||
12
|
TIRTA DIFA
|
||
13
|
SURA TIRTA
|
||
14
|
WANGSA NANGGA
|
||
15
|
RANA DIPRANA
|
||
16
|
SINGA KRAMA
|
||
17
|
DIFA DIRANA
|
||
18
|
MERTA WIJAYA
|
||
19
|
WANGSA TIRTA
|
setelah Indonesia Merdeka,
barulah ada Pemetaan , hal ini di buktikan setelah adanya Peta Wilayah yang di
terbitkan Oleh Pemerintah.
Gamabar Duplikat : Peta masa lalu.
Setelah Indonesia Merdeka maka yang Pernah Menjabat Kepala Desa
,atau yang pernah jadi Pejabat Antar waktu antara lain :
20
|
ASTRA NGALI
|
1942 - 1945
|
|
21
|
WANGSA DIKRAMA
|
1945 - 1947
|
|
22
|
SURA DIKRAMA / MANTAN
|
1947 - 1950
|
|
23
|
JIWAKRAMA
|
1950 -1951
|
|
24
|
SETRA JIWA
|
1951
-1954
|
|
25
|
WANGSA MIJAYA
|
1954 -1957
|
|
26
|
WANGSA MISASTRA
|
1957 - 1962
|
|
27
|
KRAMIJAYA
|
1965-1980
|
|
28
|
SUKARNO
|
1981 -1995
|
|
29
|
ALI MUNARDI
|
1995-1996
|
|
30
|
WARTONI
|
1996-2000
|
|
31
|
TJASIM
|
2001 -2007
|
|
32
|
MUKSAN
|
2007
|
|
33
|
TJASIM
|
2007 -2013
|
|
34
|
MUHAMAD NASIHIN
|
2013 -2018
|
|
35
|
KUSTANTO
|
2019 - 2025
|
Sekarang
|
Kenapa di Desa Banjaran sampai
sekarang masih terkenal adanya Alun – Alun, (Perempatan Banjaran Menuju Tegal
Jati ) yang sekarang masuk wilayah RW 01
Desa Banjaran dan sebagian wilayah RW 02 menurut Cerita pada Jaman Dahulu Orang
orang Pentolan dalam Ilmu Keagamaan maupun , Kepemerintahan dan
Cendikiawan,kumpul di Wilayah Alun Alun , sehingga Pusat Pemerintahan atau
Kekuasaan yang ada pada waktu itu berpusat di Alun- Alun, termasuk Masjid ,
Madrasah atau Pusat Pendidikan.
Seni dan budaya
Di Desa Banjaran, Kecamatan Salem Bahasa yang
digunakan masyarakat sehari hari adalah Bahasa Sunda, beberapa desa yang
berbatasan dengan Desa Banjaran sebelah Timur dan Utara yaitu wilayah Desa
Salem,sebelah Barat yaitu Desa Indrajaya,sedangkan sebelah Selatan adalah Desa
Ujungbarang yang merupakan salah satu desa di kecamatan Majenang Kabupaten
Cilacap .
Kurang
lebih itulah sejarah dari Desa Banjaran kecamatan Salem dan kabupaten Brebes...
Alangkah
baiknya jika kita mengenal sejarah dan menghargai sejarah. semoga bermanfaat
dan menambah pengetahuan tentang sejarah khususnya bagi masyarakat Desa
Banjaran dan umumnya bagi seluruh masyarakat indonesia.....
mantap sekali
BalasHapusTerimakasih sudah berbagi sejarah ttg desa Banjaran.Bangga jd warga desa Banjaran
BalasHapusSaya seDang mencari jejak leluhurku,, ibuku bilang kalo buyutku bernama bangsa/wangsa dikrama, tapi ibu sendiri tidak pernah bertemu langsung, karena ibuku lahir dia sudah meninggal.
BalasHapusIbuku sendiri orang jipang kec bantar kawung.
Usaha keluarganya dulu jual beli kerbau.
Waktu itu masih rawan kasus DI/Darul islam yg katanya lebih kejam dari PKI. kakekku juga dibunuh DI.
silsilah ibuku belum kutelusuri karena terahir aku tunggal di kampung ibuku masih kecil..
Besarnya hidup di tegal dan jakarta.